Unresolved 3

Solusi Untuk Dunia Musik Indonesia


Ini acara keren parah ! Yang datang sih ga banyak-banyak amat, mungkin sekitar 20 orang. Tapi isinya padat bermanfaat. Buat teman-teman yang bergelut dan concern di dunia musik, acara seperti ini kudu sering-sering dibikin. Event ini sendiri sudah melampaui lingkaran awalnya dibuat pertama kali. Teman-teman bisa baca Sejarah Unresolved untuk mengetahui 5 W 1 H nya ya. Agak telat sih untuk menulis tentang acara Unresolved 3 hari Minggu kemarin, sedang yang lain sudah membahas dan menulisnya. Tapi ga apa-apa lah ya, ini kan dari sisi Bob Merdeka yang bukan musisi, pasti beda sentuhannya hahah.


Jam 13.30 dengan sedikit pembuka dari Robin Malau tentang latar belakang acara Unresolved 3 yang ternyata bertepatan dengan hari musik nasional. Kaya disengaja gitu ya bahas tentang musik di hari musik nasional. Coba tanya Robin Malau kenapa Unresolved 3 harus tanggal 9 Maret, mungkin benar ada konspirasi. Apeu. Setelah pembuka tadi, beliau langsung lempar ke Julius Iskandar yang bercerita tentang bagaimana Bottlesmoker telah membawanya ke dunia antah berantah dan pengalaman baru tak terduga selama dia menjadi managernya. Julius naik pesawat pertama kali justru karena dunia musik, kemudian dia ceritakan juga bagaimana Bottlesmoker bisa maen di Saparua padahal musik elektronik. Bottlesmoker dari dulu hingga sekarang bagi Julius adalah fun alias sesuatu yang dibawa enjoy, dalam artian bukan untuk mencari materi. Fun spirit inilah yang dibawa oleh Bottlesmoker untuk berkarya, sehingga tak pernah ambil pusing ketika duit pas-pasan. Misal saja dengan uang seadanya, Angkuy dan Nobie merakit alat musiknya sendiri dengan cari barang bekas ke Cikapundung. Spirit ini yang justru malah membuahkan hasil luar biasa bahkan secara materi. Setelah presentasi, Julius dihujani banyak pertanyaan dan dia merasa disidang dengan sumpah serapah unjang-anjing yang berulang-ulang.


Presentasi selanjutnya datang dari Hang Dimas. Beliau berbicara tentang Music Licensing Indonesia yang bermasalah, ketika Hang Dimas dengan band Hujan di Malaysia bisa mendapatkan royalty 100 juta per tahun karena diputar di TV dan radio Malaysia. Ironisnya di Indonesia sebaliknya, contoh saja Peter Pan ketika masa jayanya hanya dapat royalty dari KCI 2 juta. LangitData.Net yang dibuatnya hadir untuk membuat dan mengawal system music licensing di Indonesia. Music adalah private rights yang bisa diperoleh royalty-nya. UU No 9 tahun 2002 terbit tanpa musisi yang hadir. Dan harus diakui bahwa Industri music Indonesia tahun 60 dan 70 dibangun dari industri bajakan. Tahun 90an baru mulai dibersihkan dari sisi labelnya. Jadi panjang perjalanannya. Nah kembali ke music licensing, ada yang namanya. Mechanical Rights dan Performing Rights. Ini adalah 2 jenis hak cipta musisi yang dibahas oleh Hang Dimas. Mechanical rights adalah hak cipta dari setiap perpindahan lagu ke mana pun, misal dari CD ke iTunes. Performing rights  adalah setiap lagu yang di –broadcast oleh Radio dan TV. Mechanical rights 6% dari CD/lagu untuk pemilik master. Masa depan music licensing Indonesia sekarang berada di Rancangan UU yang baru dan bentukan organisasi yang menaungi semuanya yaitu Sentra Lisensi Musik Indonesia (SELMI). Yuk kita pantau dan mulai ngeuh tentang music licensing, agar nasib musisi kita lebih baik. Dan para pengusaha lainnya juga bisa memperoleh kejelasan untuk membayar royalty musisi.


Setelah Hang Dimas, saya sendiri ditodong untuk present bahan diskusi sama Robin Malau seminggu sebelumnya, ya jadi manut-manut aja hahah. Presentasi saya sih seputar band endorsement yang pernah dilakukan Maicih selama ini. Kita pernah kolaborasi dengan Sarasvati, Bottlesmoker, Mocca, hingga Efek Rumah Kaca Pandai Besi. Ke semuanya ini punya cara dan treatment endorse yang berbeda. Karena setiap band tentu punya story dan kulturnya masing-masing. Teman-teman yang hadir di sana banyak bertanya tentang bagaimana mengukur endorsement dengan ROI buat Maicih sebagai pihak yang mengeluarkan biaya. Jawab saya tak ada alat ukur khusus, semua berdasarkan intuisi dan based on issue. Kolaborasi band dengan brand endorser seperti yang Maicih lakukan bukan berarti tidak bisa kuantitatif, jadi alangkah baiknya mulai mengukur begitu kata Wiku dan Dani yang memberi saran pada saya saat diskusi. Kalau Robin Malau memberi tambahan bahwa intuisi yang didelegasikan pada tim untuk brand endorsement bisa sangat keren. Dan itu sudah terjadi banyak di mana-mana bahwa intuisi yang tepat dari sebuah tim, efeknya bisa sangat luar biasa buat si band dan si brand endorser.



 


Setelah diskusi tentang band endorsement dari saya, tiba giliran Robin Malau berbagi pengalaman tentang membawa band ke luar negeri. Beliau angkat topik ini dilatarbelakangi oleh band Sigmun yang gagal pergi ke Amerika beberapa waktu yang lalu. Sayang aja gitu kalau sampai gagal, karena sudah ada yang berhasil. Kalau gagal pertama kali it's ok, nah kalau udah ada yang berhasil seperti Burgerkill ke UK kenapa harus ada gagal lagi. Salah satu masalah yang paling sering adalah waktu, banyak band yang urus-urus visa di detik-detik terakhir. No room for error, kalau bisa urus jauh-jauh hari biar efektif dan terkejar waktunya. Kemudian masalah lain adalah soal biaya, untuk yang ini sepertinya masih mudah dengan bantuan sponsor, taman, atau crowdsourcing. Nah yang paling rumit adalah birokrasi. Orang imigrasi adalah orang-orang yang digaji untuk jadi orang menyebalkan, begitu katanya. Tapi, dengan mengikuti prosedur, maka kemungkinan besar visa bisa tembus. Ada prosedur khusus untuk memperoleh visa negara barat (dari Indonesia) seperti Amerika, UK, dan negara-negara Eropa Cara paling gampang adalah menemui narasumber yang tepat. Yaitu orang-orang yang pernah membawa band ke luar negeri. Robin sendiri dan Burgerkill tidak akan berhasil berangkat ke UK tahun lalu tanpa bantuan narasumber yang sudah pernah tembus visanya ke luar negeri seperti Gustaff Common Room dan Adib Hidayat Rolling Stone.


Kemudian giliran Adhit Android ditodong untuk sharing soal game yang dia kerjakan bersama rekan-rekannya, yaitu Dreadout. Game ini dimulai dengan crowdfunding yang berhasil ngumpulin dana 29ribu dollar. Game ini juga memakai soundtrack band-band lokal seperti Sarasvati, Sigmun, Koil, Trah Project. Semenjak presentasi dari Adhit ini, obrolan mulai ngaler ngidul kemana-mana soal dunia musik. Teh Boit dari Omuniuum juga ikutan ngobrol tentang story beliau yang tadinya hanya mengelola toko menjadi mendengar curhat-curhat anak band. Dan teman-teman yang hadir juga ikut asyik menimpa satu sama lain obrolan musik ini sampai tak terasa sudah Maghrib, akhirnya bisa bubar. Ada benang merah dari obrolan dan presentasi di acara ini yaitu entrepreneur sebagai solusi dunia musik Indonesia. Era musik sekarang adalah era entrepreneurship dan peka terhadap teknologi. Menjadi musisi tak bisa hanya berkarya membuat musik saja, tapi harus membangun band atau musiknya menjadi sebuah brand yang peduli dengan fansnya, dan variabel-variabel kewirausahaan lainnya haruslah menjadi perhatian teman-teman yang mau berkecimpung di dunia musik.











Comments