poster-maicih-revisi



Inspirasi Bisnis :: Wayang Golek Maicih


Wayang Golek Maicih -- Sebuah Ide Yang Tertunda


‘Aslina, Bob maneh nabeuh Wayang Golek jang Maicih ? Anjrit, maneh edan !’


Begitulah satu dari beberapa tanggapan teman-teman ketika saya akan membuat pagelaran Wayang Golek Maicih, 7 Desember 2011 di Lapang Babatan, Kecamatan Andir, Bandung. Memang edan adalah kata yang tepat untuk acara ini. Eh masih kurang deng.. Edan pisan, juara dunia!


Wayang golek adalah salah satu bentuk kesenian Sunda yang almarhum kakek saya selalu tularkan kegemarannya pada semua cucunya. Tapi perasaan saya sih, cuma saya doang, cucunya yang jatuh cinta dan tergila-gila dengan kesenian ini. Perasaan doang ini mah, biasanya perasaan itu selalu benar heheheh. Saya pernah diajak beberapa kali mengikuti beliau lalajo wayang golek di beberapa daerah, sambil makan suuk dan jajanan khas acara tersebut. Memang kebanyakan dari ajakan kakek lalajo wayang golek ini, saya sudah keburu tertidur hahaha, tapi keesokan pagi hari sesudah acaranya, saya selalu minta diceritakan cerita lengkap pagelaran wayang golek yang beliau hadiri semalam, sembari seringkali kakek saya sedikit memperagakan adegan-adegannya dengan menggolekkan wayang koleksinya ! Ya, beliau juga mengoleksi beberapa tokoh wayang golek kesukaannya, dan bisa memainkan wayang golek layaknya dalang. Memang juara kakek saya ini. Pelestari budaya sejati, saya adalah bukti kesuksesan beliau mampu melestarikan budaya luhur bangsa ini.


ngajejer


Kalaupun tidak menonton langsung di venue, biasanya saya dan kakek saya suka menonton rekamannya baik di TVRI ataupun beli kaset rekaman, atau juga mendengarkan baik live maupun rekamannya di radio. Masa kecil saya cukup banyak dipenuhi cerita-cerita wayang golek seperti misalnya Kisah Cinta Rama Shinta,  saya juga akrab dengan tokoh-tokoh negeri Astina, Kurawa, juga Pandawa Lima. Subhanallah, saya adalah cucu dari kakek saya yang sangat beruntung mengenal semua ini. Kakek saya adalah penggemar Dalang Abah Asep Sunandar Sunarya. Andai kakek saya masih ada, beliau bisa lihat cucunya ini kacumponan juga nabeuh wayang golek kegemarannya dengan dalang favoritnya. Semoga amal ibadah dan amal shaleh almarhum kakek saya, H.E.Wahyudiningrat diterima Allah SWT, dan diampuni dosa-dosanya.. amin.


Saat remaja masuk SMAN 2 Bandung, saya bertemu dengan seorang teman yang bernama Imam Nazhar Wiratmadja, dulu dia menamai dirinya sendiri sebagai Dynamind, sekarang sih namanya @Outstandjing kalo di twitter, memang agak aneh ini orang dalam penamaan dirinya sendiri. Pertemanan dengan Imam membangkitkan kembali ingatan masa kecil tentang kesenian wayang golek. Buat saya, acara Wayang Golek Maicih ini adalah acara yang sudah begitu lama saya nantikan dan impikan jauh sebelum saya menemukan Maicih. Ide tentang acara ini, saya pernah bagikan dan bermimpi bersama Imam tadi.  Bahkan sudah sampai tahap akan merancang tentang acara ini, dulu kami ingin membuat pensi SMA kami di tahun 2003 dengan pagelaran wayang golek, namun mental belum  siap. Dan lagipula coba bayangkan pensi SMA isinya pagelaran wayang golek semalam suntuk ? Mungkin pada saat itu akan terasa sangat-sangat berbeda ketika SMA lain menampilkan suguhan musik-musik kekinian heuheuheu. :D


Ide ini dirasa belum sesuai menurut beberapa teman-teman di SMA kami saat itu, dengan begitu saya simpan baik-baik ide ini di dalam hati dan pikiran, belum jodoh dan waktunya mungkin.  Saya percaya acara ini bakal relevan di masa apapun.  Ah pasti keren, sok atuh anak SMA jaman sekarang lakukan ide ini, saya adalah orang pertama yang bakal mendukung. Percayalah !


backstage



Wayang Golek Maicih -- Dream Come True


8 tahun kemudian setelah saya lulus SMA,  saya dihadapkan pada suatu masa di mana ide ini bisa terwujud ! Tegangnya luar biasa, melebihi tegangan energi listrik PLN yang mampu menghidupkan lampu satu kotamadya.


cepot ngaroko


Kenapa harus tegang ? Wuih.. coba saja kita teliti acara ini ya, namanya saja sudah Wayang Golek Maicih. Acara ini menyangkut seni budaya yang sudah begitu tua umurnya, pernah dipakai pendahulu kita, para wali, cendikiawan terdahulu untuk menyampaikan pesan moral kehidupan bermasyarakat. Kami tidak bisa main-main menggarapnya, dibutuhkan keseriusan tingkat dewa. Kedua, judul acaranya membawa nama brand, yang berarti identitas perusahaan kami dipertaruhkan dengan sukses atau tidaknya acara ini, dan tolak ukur kesuksesan acaranya sangat banyak, dari mulai isi cerita pagelaran wayang goleknya, kepuasan penontonnya, dan penonton yang hadir lebih dari 10.000 orang dengan rentang umur yang sangat jauh, dari anak kecil sampai paruh baya. Acara ini melintasi beberapa generasi. Ketiga, adalah soal keamanan lokasi tempat berlangsungnya acara. Lapangan Babatan ini dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan paling hectic se-Bandung Raya, dari mulai Pasar Baru, Pasar Andir, pertokoan Pecinan di sekitarnya, otomatis mendadak semakin hingar bingar mulai dari 2 minggu sebelum acara dimulai. Warga sekitar semakin sering menjadikan buah bibir sehari-hari tentang acara ini. Semua ini sungguh menambah ketegangan, karena mau acara apapun di lokasi ini, seringkali terjadi kericuhan. Pemilihan lokasi ini pun bukan tanpa alasan, kami merasa lokasi ini adalah yang paling tepat untuk mengembalikan akar budaya di tempat paling strategis di kota Bandung. Muluk-muluknya adalah penyejukan moral untuk daerah ini. Saya tadi tuliskan soal pusat-pusat perbelanjaan, coba bayangkan elemen-elemen masyarakat yang ada di dalamnya teman.. Multi sosio-kultur, dari mulai pedagang, turis, preman, bahkan dekat dari lokasi acara ini, ada tempat yang cukup terkenal untuk beberapa orang, yaitu Saritem. Tempat prostitusi yang sudah ada entah sejak kapan, yang lucunya berdampingan dengan Pesantren. Gimana gimana ? Sudah makin kebayang cetar membahana-nya ?  Belum lagi ditambah alasan emosional tentang 2 cerita sebelumnya, masa kecil dan masa remaja saya yang begitu mencintai kesenian ini. Ya, lewat tulisan saya yang amburadul ini memang tak akan cukup menggambarkan darah saya mengalami pergolakan naik turun yang cukup hebat menjelang acara.


lalajo wayang


Setelah persiapan berbulan-bulan dan bolak-balik ke Jelekong (tempat tinggal Abah Asep Sunandar Sunarya). Sungguh ajaib ! Ternyata ketika acaranya dimulai terasa lain, bukan ketegangan lagi yang muncul, namun ketenangan yang sangat menyejukkan jiwa. Bucat bisul ! Dream come true. Satu lagi ide gila yang saya bisa tuntaskan malam ini, itu yang terlintas di pikiran saya selama acara. Dan rasa syukur yang mendalam karena bisa melihat penonton tertawa, tersenyum, dan khidmat menikmati acara semalam suntuk. Tak ada kerusuhan sama sekali, yang selama ini dikhawatirkan oleh warga sekitar. Misalnya saja ketika Cepot / Astrajingga mulai memberikan petuah dan bobodoran yang mengocok perut atau ketika Dalang Legendaris Abah Asep Sunandar Sunarya menggolekkan wayang-wayang ksatria bergelut dengan lawannya. Indah, sungguh-sungguh indah. Benar kata kakek saya dan banyak orang lainnya, Abah Asep Sunandar Sunarya adalah seniman sejati, gelar master saja tidak cukup untuk beliau !


mamprang!



Wayang Golek Maicih -- Memberi Ketenangan


Dan satu lagi ketenangan yang saya cari ternyata ada di acara ini. Kalau teman-teman mengikuti perjalanan saya bersama Maicih, mungkin tahu beberapa cerita perjalanan kami di Maicih jungkir balik luar biasa selama 1,5 tahun.. Juni 2010- Desember 2011. Walaupun sampai hari ini juga masih suka salto sih, tapi salto indah hahahah. Dengan acara Wayang Golek Maicih ini, semua perjalanan jungkir balik tadi seolah terbayar lunas. Rasa letih selama ini di-bully di twitter, dikhianati oleh orang-orang terdekat,  dan banyak lagi drama-drama yang tak pernah saya harapkan terjadi selama 1,5 tahun tersebut hilang sirna dengan sebuah pagelaran satu malam suntuk yang membuat diri ini bangga bahwa budaya lokal masih diapresiasi sangat tinggi oleh kita semua.


Abah Asep Sunandar


Terimakasih telah jadi bagian perjalanan ini, tanpa kalian semua, budaya luhur bangsa ini bisa hilang ditelan zaman. Terimakasih kepada semua elemen masyarakat yang terlibat di dalam acara ini, seluruh warga satu kecamatan Andir Bandung yang menjadi tuan rumah yang baik, pejabat pemerintah yang diundang dan tidak hadir, terimakasih juga kepada pihak kepolisian dan TNI yang mau menyempatkan waktunya untuk ikut mengamankan acara, pedagang yang jujur, turis yang entah datang dari manasaja, karena saya pun lihat orang bule cukup sering di lokasi, tak terlewatkan juga preman yang baik hati, santri yang mendoakan, PSK yang cantik di Saritem sana, panitia dan karyawan Maicih yang bekerja keras siang dan malam, media yang ikut membantu khususnya Ardan Group, Infobandung, dan PJTV. Tak lupa apresiasi saya yang sebesar-besarnya pada Abah Asep Sunandar Sunarya dan Giri Harja 3. Terimakasih untuk semua penonton Wayang Golek Maicih yang membuat acara ini berlangsung baik, aman terkendali, damai, dan indah. Seperti kata Abah Asep Sunandar Sunarya, ‘kebudayaan lokal adalah akar dari kebudayaan nasional, kita harus melestarikannya’.


[ultimate 1/]