Beberapa hari yang lalu ada keperluan ke daerah jalan Sumatra Bandung dan kebetulan lewat SMPN  2 Bandung.  Sebagai alumni, saya pengen tau sekarang gimana bentuknya sekolah ini hingga akhirnya iseng masuk ke dalem. Dari sisi bangunan fisik sangat jauh dengan dulu saya sekolah di sana, terlihat begitu rapi, mewah dan bersih. Kesan sebagai sekolah negeri favorit di kota Bandung terasa banget.


Namun seiring sekolah ini meningkatkan mutunya selama 14 tahun sejak saya lulus SMP tahun 2000, ternyata orang-orang baik dalam kenangan saya sekolah di SMP ini masih ada. Salah satunya adalah Andi Temar, satpam legendaris yang dari angkatan ke angkatan sepertinya semua mengenali beliau karena kebaikan dan kelucuannya. Memang jokes-nya seringkali seputar fisik pada semua orang, tak jarang Andi juga dibalas dengan sebutan hideung (hitam kelam) oleh siswa-siswi di sana. Andi sering bilang bahkan sampai kemarin ketemu di sana bahwa biar hideung, saya sudah jadi orang Sunda. Padahal aslinya beliau ini orang Ambon hahaha.


andi-temar


Biar beliau tukang heureuy dan gayanya seperti preman, tapi hatinya sungguh baik. Kebaikan yang melekat buat saya pribadi tentang Andi sampai saat ini adalah ketika dulu di SMP saya pernah mengalami kecelakaan 2 kali dan Andi adalah salah satu orang yang membantu saya. Dulu pas main bola entah bagaimana kulit telapak tangan saya robek tanpa sadarkan diri karena saking keasyikan main bola. Teman-teman yang barengan maen bola itu yang menyadarkan karena darah sudah berceceran di lapang. Beberapa pendapat teman sih terkena keramik yang pecah di sekitar lapang. Ya pokoknya harus dijahit 5 jahitan, nah Andi yang mengantar saya ke RS Bungsu. Kemudian kecelakaan kedua menimpa kepala saya, yang juga harus dijahit 3 jahitan luar dalam. Kalo ini karena dikeroyok oleh teman-teman SMPN 7 Bandung, nah Andi juga yang menelepon ibu saya tentang kabar ini. Bayangkan dulu belum jaman tuh HP, paling mewah juga pager, nah berarti Andi ini menyimpan nomer telepon rumah keluarga saya. Seperhatian itu. Kebaikan dan kepedulian antar sesama seperti ini sudah sangat langka. Sampai bertemu kemarin di sana pun, Andi sudah lupa bahwa beliau pernah berjasa dalam hidup saya. Ingatnya malah banyak tentang istri saya yang juga sekolah di sana, karena sama-sama suka bercanda. Ini berarti Andi dalam memorinya lebih banyak mengingat yang lucu-lucu dan membahagiakan, yang sedih-sedih dan menegangkan lebih banyak di-skip. Mungkin kita harus belajar sama Andi Temar.


Alhamdulillah masih diberi umur bertemu dengan Andi Temar dan bisa mengucapkan terimakasih. Bagaimana dengan teman-teman ? Mungkin ada orang baik di masa lalu yang teringat ? Coba tengok mereka deh, agar kita bisa lebih bersyukur dengan kehidupan kita hari ini.