Ayah ASI ? Apa itu ? Dulu saat usia kehamilan istri saya masih 2 bulan, saya bertanya-tanya tentang istilah Ayah ASI ini. Tak banyak literasi yang saya coba baca tentangnya, sehingga saya cenderung santai sampai pada akhirnya saya alami sendiri dan mengetahui fakta bahwa ternyata peranan suami/ ayah sangat besar untuk membuat ASI sang ibu bisa lancar setiap harinya. Ayah ASI adalah kita sebagai suami dan ayah sang bayi mendukung sang ibu memberikan ASI untuk bayi kita setiap harinya. Konsepnya sederhana, hanya tinggal menemani dan mendukung istri kita setiap hari, mudah kan ? Coba saja kalau nanti teman-teman sudah jadi ayah dan ikuti persalinan istri kita, semua pasti terasa mudah. InsyaAllah :)


Pengalaman menjadi Ayah ASI eksklusif selama 6 bulan ke belakang adalah perjalanan konsistensi mendukung istri saya menjadi ibu terbaik untuk anak kami. Yang paling berat adalah saat hari pertama anak kami lahir ke dunia, bagaimana istri saya yang sudah lelah akan proses persalinan, beberapa jam kemudian harus mencoba memberikan colostrum untuk pertama kalinya kepada sang bayi. Sebelum ASI keluar, ada yang namanya colostrum. Saya tak pernah terbayang bagaimana rasa sakitnya, saya hanya bisa bersyukur bahwa saya hadir menemani istri saya di masa-masa tersebut. Dan Alhamdulillah lancar, colostrum itu keluar, makanan pertama si bayi sejak kelahirannya.


Nah saya pikir beres di situ, besok dan seterusnya pasti akan baik-baik saja dan lancar karena colostrum kan sudah berhasil keluar. Ternyata tidak begitu saja, perjuangan itu belum berhenti dan butuh komitmen untuk ASI keluar terus menerus. Seorang ibu butuh banyak dukungan moral yang sangat besar dari orang-orang terdekatnya, ya terutama suami. Karena berdasarkan pengalaman istri saya, yang dia ungkapkan saat 2-3 minggu pertama adalah rasa sakit yang luar biasa karena hisapan si bayi ke payudara ibu di awal masa menyusui sangatlah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin karena faktor pertama belum terbiasa, kedua karena pemulihan tubuh pasca melahirkan masih belum optimal. Disitulah ironis dan keindahannya, Allah ciptakan ini semua adalah ujian untuk menjadi orang tua seutuhnya. Makanan terbaik untuk bayi justru hadir dari rasa sakit yang harus dilewati sang ibu. Luar biasa rencana Allah dalam setiap detik kehidupan manusia. Dan perlu diingat oleh teman-teman yang akan menjadi Ayah dalam waktu dekat, jangan menyerah oleh tangisan istri kita yang kesakitan karena proses menyusui yang menyakitkan di awal, teruslah mendukung istri kita dengan terus paksakan pikiran kita untuk mmeberikan ASI pada bayi kita walau harus melewati rasa sakit. Berjuang ya semuanya. :)


Banyak teman dan keluarga yang menyarankan ini itu agar ASI keluar dengan lancar, makan bayam dan daun apalah, minum madu anulah, dan segala macamnya yang membuat kami harus menyaringnya karena data yang berseliweran terlalu banyak dan berbeda-beda setiap harinya. Namun dari pengalaman saya menjadi Ayah ASI bukanlah asupan gizi yang paling dominan untuk membuat ASI lancar. Justru pikiran / mindset si ibu-lah yang paling penting. Pikiran yang percaya terus menerus bahwa ASI bakal terus ada untuk si bayi. Untuk catatan saja, istri saya jika merunut histori keluarganya, beberapa keluarga dekatnya tidak keluar ASI-nya. Dan dengan ijin Allah, semua itu bisa runtuh oleh pikirannya yang terus berjuang untuk percaya setiap hari bahwa ASI itu selalu ada untuk anak kami.


Nah peranan suami / Ayah ASI yang krusial setiap harinya adalah menjaga pikiran istri kita untuk terus berpikir positif bahwa ASI itu selalu ada, dan menjaga ritme mood istri kita tetap stabil. Jangan sampai stress tuh istri kita, ya sedikit-sedikit emosi tentu ada, wajar namanya juga manusia, banyak ruang untuk kesalahan, namun kita sebagai suami harus kembalikan selalu ke mindset positif sang istri dan diri kita pribadi. Bukan itu saja, kita sebagai Ayah ASI juga ada baiknya bergantian untuk menjaga merawat bayi kita dengan istri seperti misalnya gantikan popok / pakaian, memandikan, gendong, me-ninabobo-kan, ngajak ngobrol si bayi, dan seterusnya aktifitas membesarkan anak pada umumnya. Kami sih sampai hari ini memilih untuk tidak pakai nanny karena kami lebih suka kedekatan dengan bayi tanpa campur tangan orang asing. Memang dalam 6 bulan ini juga seringkali kami dibantu oleh pihak keluarga terutama orang tua kami / nenek-kakeknya si bayi dalam mengurus, atau juga sering dibantu kakak-kakak kami. Tapi itu tidak terjadi tiap hari dan tidak dalam waktu yang terlampau ekstrim apalagi sampai ditinggal inap dan dititip di rumah orang tua tanpa kehadiran kami. Kami belum pernah lakukan itu dan belum mau. Mungkin nanti kalau anak kami sudah bisa berjalan atau ya usianya sudah 2-3 tahun, bisa saja itu kami lakukan, tapi sekarang kami rasa belum saatnya. Lagi lucu-lucunya mendingan sama kami terus-lah hehehe. :)


Langit Rocks !Pak Haji


Mungkin teman-teman akan bilang.. tapi kan itu mah Bob Merdeka sebagai pengusaha banyak waktunya untuk menemani anak dan istri, bagaimana kalau kami yang bekerja ? Saya kira teman-teman yang bekerja jangan dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak kita. Mau bekerja kek,  mau pengusaha kek, mau artis kek, mau tugas ke luar kota kek, apapun profesi kita, waktu dan curahan pikiran hati untuk anak dan istri kita itu tak mengenal profesi. Apalagi jaman sekarang banyak fasilitas teknologi yang memudahkan kita untuk berkomunikasi. Karena yang terpenting adalah komitmen untuk membuat istri kita merasa mampu untuk memberikan ASI eksklusif dan menjadi tim yang kompak bersama suaminya membesarkan anak yang sehat dan kuat. Banyak kok teman kami juga yang bekerja, bahkan suami istrinya dua-duanya bekerja senin sampai jumat namun mereka tetap jadi orang tua ASI dengan cara si istri memompa ASI-nya sebelum berangkat kerja dan disimpan di botol susu sehingga nanti si bayi bisa disusui pakai botol oleh orang yang dititipkan oleh kita. Selalu ada solusi untuk kesehatan anak kita sehingga mendapatkan ASI eksklusif.

Oh iya ada berita baik dari perjuangan kami selama 6 bulan ASI eksklusif ini, anak kami sangat sehat melebihi teman-teman seusianya yang tidak ASI. Sejauh ini baru 3 kali sakit flu dan sembuh dalam waktu sehari, paling lama 2 hari. Itu juga karena kami bawa ke Bogor di usia 2 bulan, dan saat usia 4 bulan dibawa kami keluar terlalu malam sampai setengah 11 malam, satu lagi saat usia 5 bulan kami bawa jalan2 ke mall cukup sering dan sering hujan di kota Bandung, jadi ini sih kesalahan kami heuheu. Tapi lihatlah statistiknya betapa sehat dan kuatnya anak kami tanpa asupan apapun selain ASI, ya garis bawahi ya hanya ASI. Jangan tanya pada kami tentang susu formula.. hemm mahkluk apa ya itu, ga kenal tuh hahaha. :D


Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak kita. Selamat menjadi orang tua ASI untuk teman-teman yang sebentar lagi akan mempunyai anak. Yang sudah punya bayi ayo jadi orang tua ASI ! Terus berjuang dan berdoa ya ! Sekarang anak kami Langit Sastra Merdeka, setelah melewati fase 6 bulan ASI eksklusif,  hari ini sudah makan buah pisang dengan dicampur ASI untuk pertama kalinya tadi pagi hehehe. :)